Perjalanan Panjang

Cerita Keseharianku

Disabilitas

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — waterlily at 9:55 pm on Jumat, Desember 2, 2011

Kali ini aku ingin menulis tentang disabilitas, istilah baru yang digunakan untuk menggantikan kata cacat. Masih terdengar aneh memang, tetapi kata ini sepertinya lebih enak didengar dan konotasinya lebih baik dibandingkan dengan kata cacat. Berbicara tentang disabilitas, maka pasti yang terbayang adalah mereka yang tidak bisa melihat (tuna netra), tidak bisa mendengar (tuna rungu), tidak bisa berbicara (tuna wicara) atau mereka yang anggota tubuh mereka tidak normal seperti kita.

Mereka semua itu adalah orang-orang yang sebenarnya tidak memerlukan belas kasihan dari kita, tetapi mereka adalah orang-orang yang memerlukan pedampingan agar mereka mampu mandiri. Karena disabilitas yang mereka miliki otomatis mereka tidak dapat melakukan yang dilakukan orang normal karena fasilitas yang ada saat ini diperuntukkan bukan untuk mereka. Dengan demikian, yang perlu kita lakukan adalah memberikan ruang khusus untuk penyandang disabilitas agar mereka mampu berkreasi sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki.

Namun yang sangat disayangkan adalah posisi penyandang Disabilitas dan Pandangan Masyarakat yang masih mendiskriminasikan mereka. Yang masih menganggap kalau penyandang disabilitas itu adalah orang-orang yang tidak mampu berbuat apa-apa. Penyandang disabilitas itu adalah orang-orang yang hanya mengharap belas kasih. Penyandang disabilitas itu adalah orang yang hanya membebani orang lain.

Yang perlu kita lakukan saat ini adalah menghilangkan pikiran tentang penyandang Disabilitas dan Pandangan Masyakat yang selalu menempatkan mereka sebagai orang yang tidak bisa mandiri. Tugas kita adalah menjadi pendamping mereka. Meletakkan mereka sejajar dengan kita. Bekerja sama dengan mereka dan melakukan berbagai hal dengan mereka. Tanpa diskriminasi tentunya. Bisakah? Tentu bisa. Jangan hanya mengharap dari pemerintah saja. Ya, walau pada dasarnya memang sudah menjadi tanggung jawab pemerintah untuk membina penyandang disabilitas tersebut. Tapi, tau sendiri bagaimana pemerintah kita.

(Elsatu) Jawaban Apa Yang Harus Kuberi?

Diarsipkan di bawah: Lelaki Itu — waterlily at 6:33 pm on Sabtu, Nopember 13, 2010  Tagged

Dek, lagi sibuk tidak? Ada yang mau abang tanyakan. Tapi kalau kamu lagi sibuk it’s ok. Abang juga tidak mau mengganggu koasmu.

Elsatu tiba-tiba mengejutkanku dengan smsnya. Mau nanya sesuatu? Kalau mau bertanya lantas kenapa harus menungguku tidak sibuk? Pikirku. Saat itu aku memang sedang sibuk karena harus dinas malam di rumah sakit. Pasien yang kutangani sedang gawat, tapi tetap saja konsentrasiku teralih oleh sms Elsatu itu.

Emm… sibuk ngga ya? balasku. Sampai akhirnya aku menegaskan dengan mengiriminya pesan

Iya, lagi sibuk. Lagi jaga di RS. Memangnya mau nanya apa? Kok sampe ada istilah “mengganggu” gitu.  Ada apa sih? Tanya aja?

Lalu dengan sedikit mukaddimah, Elsatu menanyakan sesuatu yang memang sudah kuduga sebelumnya. Ya, pertanyaan yang memang akan menggangguku. Sampai sekarang setelah lima hari sms itu sampai ke ponselku, aku masih terganggu. Coba saja aku tidak memberikan kesempatan baginya menyakan hal itu, pasti sekarang aku tidak galau seperti ini.

Hehe.. Ya udah, abang nanya aja deh ketimbang kamu penasaran. Pertanyaannya adalah… Tapi dirimu jangan marah ya.. “Bolehkah abang mengenalmu lebih jauh?”

Kalimat yang dibubuhinya dengan tanda kutip itu membuatku sampai sekarang harus berpikir keras. Syukur waktu itu aku menjawab

Berikan diriku waktu untuk menjawabnya

Dan diapun mengiyakan sambil menambahkan bumbu “jangan sampai hal ini mengganggu aktivitasmu”. Bah, jelas mengganggu. Bahkan sangat mengganggu. Saban hari aku terus menerus kepikiran dengan pertanyaannya itu. Memikirkan jawaban apa yang harus aku jawab.

Jujur, sebenarnya sejak dulu aku sudah mulai menyukai lelaki itu. Padahal saat itu, temannya (Eldua) sedang melakukan pendekatan denganku. Hanya saja, rasa itu aku pendam apalagi waktu si Eldua mengatakan bahwa ia sering trauma dengan teman wanitanya.

“Kenapa ya, setiap abang mengenalkan teman cewek abang ke teman (cowok) pasti nantinya si cewek itu jadian sama teman abang, ” begitu jelasnya.

Serasa seperti pagar makan tanaman memang. Tapi seiring berjalannya waktu, rasa sukaku mulai berkurang. Ya, aku adalah orang yang mudah menyukai dan menghilangkan rasa itu ketika aku tidak menginginkannya. Layaknya tanaman, jika dipupuk dan disiram dengan rajin ia akan tumbuh subur. Tapi jika dibiarkan saja, tanaman itu akan mati dengan sendirinya. Begitulah rasa. Aku meyakininya.

Aku rasa, Elsatu mulai berani menanyakan hal itu kepadaku setelah ia tahu kalau aku sudah menolak Eldua. Ya, apalagi menurut cerita Eldua, ia sering curhat tentangku kepada Elsatu. Pasti lelaki itu sudah menceritakan perihal penolakanku padanya.

Jujur, sebenarnya walaupun sudah dibiarkan rasa itu masih ada di hatiku. Aku masih menyukai Elsatu, apalagi beberapa ia adalah tipikal cowok yang masuk ke dalam beberapa kriteriaku.

1. Ilmu agamanya bagus. Ia sering mengisi kajian dan menjadi khatib ketika jumat. Elsatu juga bersekolah di pesantren yang sama denganku ketika SMP dulu. Ketika aku mengajaknya diskusi, pendapat yang diberikannya membuatku kagum. Aku suka cara dia berpikir. Jika bersamanya kelak, aku yakin akan dapat membangun sebuah rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah. Ia pasti bisa membimbingku ke arah yang lebih baik.

2. Pendidikannya juga memadai. Dia seorang sarjana teknik dan sekarang menjadi manajer di sebuah kantor pengumpulan zakat. Saat ini menurut pengakuannya ia sedang melamar kerja di perusahaan BUMN dan di kantor pemerintah.

3. Dewasa. Ya, dia cukup dewasa. Aku menyukai orang yang berpikiran dewasa. Setidaknya dengan begitu, aku akan lebih menghormati dia.

4. Menghargai wanita. Dari cara-cara dia berbicara denganku secara langsung, ketika kami mengobrol di dunia maya ataupun sms, aku merasa dia saat menjaga perasaanku. Tidak pernah memaksa kehendaknya atau apapun itu.

Apa yang ada padanya sekarang meleburkan hal-hal lain yang ada padanya dan tidak masuk ke dalam kriteriaku

1. Anak pertama. Aku sangat menghindari lelaki yang merupakan anak sulung dalam keluarganya karena aku juga anak pertama. Sebagai anak pertama, dia pasti menjadi tulang punggung keluarganya sama seperti aku. Anak pertama cenderung egois. Dan berbagai hal lain yang cenderung ada pada anak pertama. Nah, jika dua hal yang tidak baik ini dipertemukan, bukankah tidak baik juga?

2. Adik-adiknya banyak. Waktu aku menanyakan berapa orang adik-adiknya. Elsatu mengatakan kalau mereka 9 bersaudara. Itu artinya ada delapan orang dibawahnya. Bayangkan saja, dia saja baru 28 tahun pasti adik-adiknya masih kecil-kecil juga. Mereka pasti akan menjadi tanggungan si Elsatu.

3. Dia belum memiliki pekerjaan tetap.

4. Dia adalah tipikal seorang haji atau ustad yang jika nanti aku menikah dengannya, aku mungkin hanya akan di rumah saja. Aktivitas yang kujalani selama ini mungkin akan dilarangnya. Aku tidak bisa sebebas sekarang

5. Tidak tinggi. Ia hanya beda beberapa senti dariku.

Kelima hal itu lebur dengan kelebihan yang dimilikinya. Namun, semua itu tidak membuatku langsung menjawab ia padanya. Apalagi ketika aku mencari tahu tentangnya pada Eldua. Kesannya jahat memang. Masa aku menanyakan itu pada orang yang pernah menyukaiku. Tapi mau nanya pada siapa lagi? Hanya Eldua yang kukenal dan sahabatnya Elsatu.

Secara objektif, Eldua memaparkan panjang lebar tentang Elsatu. Orangnya baik, agamanya bagus. Tapi ada hal lain yang membuatku semakin ragu untuk menjawab “Ya”.

Bertanya pada Eldua memang tidak akan memberikan hasil seperti yang sesuai dengan keinginanku. Perasaannya pasti akan lebih mendominasi jawabannya. Apalagi ketika ia tahu kalau teman yang selama ini menjadi tempat curhatnya ternyata juga menyukaiku. Tapi ketika ia mengatakan kalau Elsatu ternyata sudah mencari tahu tentangku dan keluargaku. Bahkan sampai ke silsilah keluargaku segala.

“Keluarga dia (Elsatu) juga kenal dengan keluarga kamu. Dan sepertinya mereka kurang sreg dengan keluargamu, Dek.”

Aku tak tahu apakah pernyataan Eldua itu benar atau dia hanya mendengar kabar tak jelas saja. Tapi, kalimat itu langsung membuatku semakin ragu untuk menjawab “Ya” pada Elsatu. Bagiku, keluarga adalah segala-galanya. Di dunia ini selain Allah, aku hanya memiliki mama dan adikku. Bagiku mereka adalah segala-galanya. Dan jika ada orang yang tidak menyukai mereka, maka berhenti menyukaiku juga.

Mungkin aku harus istikharah dulu sebelum aku memberinya jawaban.

PP 11 : Membunuh Malas

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — waterlily at 1:25 pm on Rabu, Juli 7, 2010  Tagged

Malaaaaasssssssssss… Huh, aku merasakan begitu malas. Sudah sejak beberapa hari yang lalu. Ya, tepatnya sejak aku menyelesaikan kepaniteraan klinik di bagian kesehatan masyarakat. Seharusnya waktu libur dua minggu ini bisa kumanfaatkan sebaik-baiknya. Tapi, hampir 5 hari libur aku masih belum berbuat apa-apa. Rasanya istilah habis gelap terbitlah terang dan habis malas terbitlah rajin tak berlaku untukku.

Pusing. Aku masih saja berlarut dalam kemalasan ini. Padahal seandainya saja aku mau bangkit, banyak hal yang bisa aku lakukan. Mulai dari senam pagi untuk menguruskan badan yang semakin melar sampai menulis agar aku bisa mendapatkan penghasilan tambahan. Aku harus berkerja lagi untuk membantu mamaku. Apalagi sebentar lagi aku harus membayar SPP. Dari mana mamaku bisa mendapatkan uang untuk membayar SPPku dan juga adik. Mama pasti bakalan ngutang lagi sama sepupunya yang kaya itu, tapi aku tak mau. Aku tak mau menyusahkan mamaku, tapi aku hanya bermalas-malas di sini.

Sebenarnya aku bisa melakukan banyak hal. Mulai dari menulis untuk majalah yang pernah ditawarkan oleh temanku dan juga menulis untuk harian yang selama ini selalu memuat tulisanku. Setidaknya honor dari sana sedikit bisa membantu meringankan beban mama, tapi lagi-lagi malas. Sungguh aku sangat tidak berarti. Bisanya hanya memikirkan diri sendiri. Mikirin jodoh, mikirin tubuh, mikirin wajah yang kini bersemu merah karena jerawat, mikirin hal-hal yang tak perlu kupikirkan. Come on girls. Aku tak bisa terus-terusan seperti ini. Aku harus bergegas untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Tak hanya memikirkan yang tidak-tidak. Aku harus bisa.

PP 10 : Krisis Kepercayaan Diri

Diarsipkan di bawah: Perjalanan — waterlily at 10:47 pm on Rabu, Juni 16, 2010  Tagged

Hari ini aku menemani Sara, sepupu perempuanku ke dokter kandungan. Dia telat dua bulan. Hamil? Bisa iya bisa ngga. Maklum Sara sudah menikah tiga bulan yang lalu. Jadi ada kemungkinan besar dia telah berbadan dua. Tapi kemarin bercak darah keluar dari kemaluannya.

“Seperti plek, agak kecoklat-coklatan,” begitu jelas Sara.

Aku dan mama segera menyuruhnya ke dokter kandungan. “Takutnya kalau benar hamil, kamu keguguran Ra,” mamaku khawatir.

“Dan harus dikuret, kalo ngga jadi penyakit,” tambahku.

Akhirnya aku membawa Sara ke praktek dokter kandungan. “Kalau hamil muda dan anak  pertama memang rawan,” jelas mama yang juga ikut bersama kami.

Aku dan Sara tinggal di satu kontrakan. Maklum suaminya kerja di luar kota, jadi hanya kami berdua yang ada di rumah. Lebih kurang tiga bulan kami tinggal bersama. Sebelumnya aku dan dia tinggal di kost-an yang berbeda. Umur Sara dua tahun di bawahku. Ya, dia memang cepat menikah. Diusia yang ke 19 ia telah menyandang predikat sebagai istri. Tapi karena masih kuliah ia tidak bisa tingga serumah dengan suaminya.

“Sama aja lajang kalau begini,” ujarku suatu hari.

“Beginilah yang lebih enak, Kak!” jawab Sara, “kalau sering ketemu, kadar rindunya jadi berkurang. Nah, kalo jarang-jarang ketemu begini? Waktu jumpa langsung deh.”

“Ah, ngga ngerti saya urusan ibu rumah tangga,” kilahku.

Di satu sisi, aku iri pada Sara. Ia telah berani mengambil suatu keputusan yang besar dalam hidupnya yaitu menikah di usia muda. Apalagi ia termasuk perempuan yang cantik, putih, dan seksi. Sangat banyak lelaki yang suka padanya. Terlebih Sara adalah sosok cewek yang humoris dan suka bergaul. Tapi dengan menikah, bukankah itu malah mengekang diri?Itulah yang selalu terlintas di pikiranku.

Di sisi lain, aku sangat setuju dengan pernikahannya. Selama ini aku merasa Sara sudah sangat bebas. Bahkan ia sering gonta-ganti pacar. Dengan menikah, setidaknya ia bisa lebih setia ke pasangannya. Walaupun kebiasaannya yang terlalu terbuka terhadap kaum Adam dan sifat centilnya yang terkadang membuat dia seolah lupa diri kalau sudah menikah membuatku sedikit tidak menyukainya. Tapi setidaknya laki-laki yang usil yang mengganggunya sadar kalau Sara sudah bersuami, bukan lagi single.

Dan karena dia sudah menikahlah, aku mau tinggal satu kontrakan dengan dia. Kalau tidak? Huh, aku sangat tidak tahan melihat cewek yang terlalu bebas bergaul dengan cowok. Iri? Tidak. Kuakui, aku tidak sebanding dengan Sara. Wajahku tak secantik dia. Jerawat di wajahku semakin penampilanku semakin buruk. Di tambah lagi dengan berat badanku yang setiap hari naik terus. Jelas aku jauh tertinggal darinya. Kalau kami jalan berdua, pasti mata lelaki akan langsung terpana pada Sara. Sedang aku? Ya, cukuplah sebagai obat nyamuk.

Kurang percaya diri, begitulah psikolog menyimpulkan sifatku.

“Kamu itu cantik Lily. Kamu memiliki mata yang sangat indah. Kamu  juga cerdas. Dan kamu calon dokter. Laki-laki mana yang tidak tunduk ketika melihatmu?” Okta, teman sekampusku begitu bersemangat memuji diriku. Ia menyebutkan seluruh kelebihanku tanpa menyebutkan kekuranganku.

“Aku gemuk Ok, keluargaku sangat sederhana. Jerawat telah memenuhi wajahku. Dan aku cenderung diam pada lelaki. Jadi sangat tidak mungkin dengan semua kata-katamu tadi. Kekuranganku menutupi seluruh kelebihanku.”

“Hei Ly, kamu jangan underestimated seperti itu. Jadilah dirimu sendiri. Apa adanya. Itu lebih baik. Ketimbang kamu harus menjadi orang lain dan kamu tidak nyaman dengan semua itu.  Peduli amat dengan pandangan orang lain apalagi cowok terhadapmu. Hidupmu adalah milikmu. Jadi nikmatilah. Jangan sampai semua itu membuatmu tak berdaya,” kata-kata Nur yang juga teman sekampusku itu membuatku kembali bersemangat. Ya, walau kadang-kadang semangatku turun lagi. Tapi aku tetap ingat nasihat temanku itu.

Ketika Sara diperiksa dokter kandungan, aku mencoba mengukur berat badanku di timbangan yang diletakkan di ruang tunggu. “Hah, ngga mungkin,” ucapku dengan suara yang kutekan. Aku masih ngga percaya dengan hasil yang ditunjukkan di timbangan itu. “Pasti salah. Bisa jadi jarumnya ngga tepat pada angka nol,” gumamku sambil  sendiri. Lalu aku kembali berdiri di atas timbangan. Dan hasilnya tetap sama. Berat badanku kini 60 kg. Sangat tidak ideal untuk ukuran tubuhku.

Seraya aku masih syok dengan hasil timbangan, Sara keluar dari ruang praktek dan mengatakan kalau dia tidak hamil.

“Hanya terlambat datang bulan aja, Kak.”

“Terus apa kata dokter waktu kamu bilang hasil plano testnya positif?” aku masih bingung dengan ucapan Sara. Beberapa hari sebelumnya ia pernah mengatakan padaku kalau ia positif hamil.

“Kata dokter, hasil tes itu sering ngga benar.”

“Ooo… Memang sih, keakuratan dari pemeriksaan sendiri itu kadang-kadang kurang. Lebih baik periksa langsung ya Ra.”

Sara mengangguk dan kamipun kembali ke kontrakan.

Perjalanan 9 : Ancaman 22 !!!

Diarsipkan di bawah: Perjalanan — waterlily at 9:10 pm on Selasa, Juni 15, 2010  Tagged

Apa yang menjadi ancaman terbesar ketika umur telah beranjak dari dua puluh dua? Ketika kuliah telah usai? Ketika diri semakin tua? Ketika banyak teman-teman kuliahmu dulu telah mengakhiri masa lajangnya? Harus mendapatkan pekerjaan segera mungkin itu salah satu ancaman, tapi tidak begitu besar bagiku. Karena setelah kuliah aku harus mengambil gelar profesi lagi sebagai dokter muda lagi selama setahun setengah. Jadi soal kerjaan AMAN.

Lalu, apa yang membuatku semakin risau selama ini? Nikah!!! Itu dia yang sejak aku duduk di bangku SMA telah menggerogoti jiwaku. Dulu ketika duduk di bangku SMA, aku ingin nikah muda. Setelah lulus kalau ada yang melamar langsung deh nikah aja. Waktu itu pikiranku begitu lurus. Tak pernah terlintas di benakku tentang betapa sulitnya menjadi istri dan ibu. Apalagi dengan usia yang masih muda.

Setelah lulus SMA, pikiranku berubah. Keinginanku untuk menikah muda sirna. Apalagi ketika aku lulus di salah satu PTN dengan jurusan yang diminati sejuta ummat. Biarlah aku menikah ketika duduk di bangku kuliah saja. Sekalian jalan, begitu pikirku. Tetap kuliah dan menikah. Tapi ketika semakin menyelami dunia kuliah, keinginanku untuk nikah kembali pudar. Habis kuliah aja. Sebelum mengambil koass.

Nah, sekarang ketika lebih dari tiga bulan aku menyelesaikan kuliah dan selama itu juga aku menjalani koass aku belum juga menikah. WHY kenapa? Inilah yang susah aku jelaskan. Sebenarnya dalam hati kepingin sekali mengakhiri masa lajang ini. Apalagi sudah kepala dua. Namun apa hendak dikata keinginan tak jua sampai. Mama ingin aku nyelesain koass dulu dan jadi dokter, baru nikah.

Ya, aku tahu kenapa mama ingin seperti itu. Aku anak sulung dari dua bersaudara. Adikku cowok dan sekarang sedang kuliah. Mama singel parent sejak tiga belas tahun yang lalu. Papa telah meninggal saat aku dan adikku masih kecil banget. Jadi mamalah yang membiayai kuliahku selama ini. Berbekal dari gaji pensiun papa dan warisan dari kakekku, mama telah mampu membawaku hingga menjadi sarjana. Mama ingin ketika aku menjadi dokter kelak, aku dapat membantu keluargaku. Dan, kalau aku menikah sekarang, otomatis biaya koassku akan ditanggung suamiku. Nah, ini yang mama tidak mau. “Udah cape-cape mama kuliahin, eh akhirnya yang bangga orang lain. Biarlah mama banting tulang untukmu, Nak!” ucap mama saat aku mengungkapkan keinginanku.

“Tapi rezeki itu di tangan Tuhan kan, Ma?” aku mencoba meyakinkannya.

“Iya. Lagipula itu hanya alasan mama saja. Semua tergantung jodoh, Nak!”

Mama benar, semua tergantung jodoh. Dan sekarang siapa yang menjadi jodohku? Aku memang ingin menikah, tapi dengan siapa?

Saat itu dan sampai sekarang aku memutuskan : biarlah semua berjalan layaknya air yang mengalir. Aku tetap menjalankan koassku sampai menjadi dokter kelak. Terus tentang nikah? Tetap harus dipikirkan. Karena aku ingin menikah. Hmm, kira-kira siapa ya yang akan menjadi jodohku kelak?

Perjalanan Kedelapan : Jangan Pernah Menyerah

Diarsipkan di bawah: Perjalanan — waterlily at 11:22 pm on Sabtu, Desember 19, 2009  Tagged

Beberapa hari ini aku merasakan semangatku hilang bersama hujan. Tak ada gairah untuk berbuat sehingga semuanya menjadi terpaksa. Namun, sebelum memposting tulisan ini seorang temanku meminta untuk membuka sebuah video yang baru saja ia dapatkan dari Youtube.

“Lihatlah,” pintanya seakan ingin membantuku keluar dari belenggu yang melenyapkan semangat ini.

Aku pun membuka dan menyaksikan video itu. Seorang lelaki cacat yang tak memiliki lengan dan kaki membuat mataku tak berlalu sedetikpun. Meski koneksi internetnya sedang tidak normal karena hujan, aku tetap menunggu video itu loading hingga akhirnya kudapat menyaksikan sebuah pertunjukan yang indah dan membakar kembali semangatku. Semoga teman-teman yang menyaksikan video ini juga merasakan hal yang sama. Jangan pernah menyerah karena hidup adalah anugrah.

Perjalanan Kedelapan : Ta’aruf

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — waterlily at 9:57 pm on Selasa, Desember 1, 2009

Baru saja, beberapa saat sebelum tulisan ini kutulis. Seseorang menegaskan kembali keinginannya untuk mengenal lebih dekat denganku. Ta’aruf, sebuah proses awal untuk menuju jenjang pernikahan. Begitu istilah yang sering dipakai. Dan aku menjawab, “Maaf, saya belum siap bang. Kasian mama saya. Beliau ingin saya lulus kuliah dulu.”

Salahkah aku menjawab demikian? Tapi, jawaban itu keluar dari hati nuraniku. Walau ada bagian lain yang sebenarnya ingin mengakhiri masa lajangku ini. Namun, aku belum siap secara lahir dan batin untuk menuju kehidupan baru itu.

Banyak alasan yang menjadikanku ragu, salah satunya mama. Aku tidak ingin setelah bersusah payah mama menyekolahkanku lalu di tengah jalan aku memutuskan untuk kuliah. Belumpun aku sempat memeberikan hasil, aku telah menjadi istri orang. Satu lagi, aku takut, dengan pernikahan, bukannya membuat beban hidup mama menjadi berkurang tapi malah bertambah berat. Aku tak mau itu.

Ya Allah, maafkan aku jika aku telah salah dalam mengambil keputusan. Aku hanya ingin membahagiakan mamaku Tuhan. Kuyakin Kau lebih tahu isi hatiku, jalan hidupku, dan tentu saja jodohku.

Sebenarnya, sebelum lelaki itu datang, ada juga seorang yang ingin menjadi pendamping hidupku. Dan alasan yang sama yang kuberikan, tapi aku tak mengerti kenapa ia tetap mengotot, bahkan waktu idul adha kemarin ia berkunjung ke rumahku yang letaknya sangat jauh dari tempatnya. Terpaksa, kebekuan kuciptakan karena aku tak ingin memberi harapan. Aku tak mau lelaki yang menganggap semua hal dengan sangat serius itu merasa mendapat peluang dengan sikapku yang hangat. Salahkah aku?

Tapi, aku salut dengan lelaki yang baru saja kutolak keinginannya. Dia sangat menghormati keputusanku. Ia sadar, semua itu adalah hakku. Ya Allah, berikanlah pendamping yang ter

Perjalanan Ketujuh : Roti Selai Strowberry

Diarsipkan di bawah: Perjalanan — waterlily at 8:42 am on Rabu, Nopember 25, 2009  Tagged

Pagi ini sambil melahap 3 potong roti selai strowberry aku kembali berbagi dengan blog tercinta ini. Hai, apa kabarmu? semoga baik-baik saja… Sebentar ya, aku mau minum dulu. Nahhh.. udah meneguk segelas air putih, melahap semua roti, sekarang saatnya menulis.

Hiks, selai strowberryku habis. Hmm ngga papa deh, nanti bisa dibeli lagi. kebetulan hari ini ngga ada jadwal kuliah. Rencananya sih hari ini aku mau cuci motorku, maklum saja kalo musim hujan begini mio putihku cepat kotor. setelah itu isi bensin dan beli selai strowberry. Siip lah.

Kepalaku pusing banget nih, semalaman aku tersiksa banget gara-gara ngga bisa tidur. mungkin kemarin siang aku tidurnya lama banget ya, jadinya malam melek terus. aku mencoba mematikan lampu, biar gelap, siapa tau bisa lelap. Tapi tetap aja nihil. Ya sudah, aku pasrah saja sambil terus menutup mata, dan aku ngga sadar jam berapa aku tidur. entah jam duaan gitu, entahlah.

Selain pusing, aku juga lagi sedih nih. Tau kenapa? karena sampai sekarang kuliah belum libur. Padahaln Jumat udah lebaran, hwwwwaaaaaaaa :(. besok masih ada jadwal jam 10 sampe jam 12. kenapa sih ngga diliburkan aja? hmm, mau gimana lagi, sebagai mahasiswa aku harus nurut saja. pasrah, gak papalah, yang penting aku masih bisa pulkam. besok siang aku bisa kembali ke rumah dengan busnya bang H yang sudah kupesan kemarin.

Perjalanan Keenam : Konstipasi

Diarsipkan di bawah: Perjalanan — waterlily at 8:31 pm on Minggu, Nopember 22, 2009  Tagged

Sambil dengerin Menunggunya Ridho Rhoma yang mendayu-dayu,  setelah posting di blog yang lain, sambil mengeluarkan angin, aku menulis di sini. Hmmm, kalimat yang terakhir kurang sedap ya. Aihhh, itu normal lagi. Kentut itu kebiasaan yang baik. Kebayang ngga kalo kamu ngga bisa kentut lagi karena ada obstruksi alias penyumbatan di saluran pencernaanmu? Maka bersyukurlah kalo masih bisa kentut, walau terkadang mengeluarkan bau tak sedap. Namanya aja keluar dari tong sampah. Kenapa tong sampah? Ya jelas dong, semua jenis makanan dimasukin ke dalam perut, semua jenis kuman juga ikutan, bahkan yang bukan makanan pun diembat. Apakah itu? pikir aja sendiri.

Kenapa aku membahas tentang kentut dan saluran cerna? Hwaaaa, itu karena aku sedang bermasalah dengan pencernaanku. Konstipasi alias sembelit, itu yang kualami sekarang. Sudah dua hari sampah di tong ini tak kubuang. Syukurnya makanan yang kukunyah tak menghasilkan bau tak sedap, kalo tidak? Bersiap-siaplah kau mencium bau kentut hehehheh…

Nah, apa hubungannya kentut dengan konstipasi? jelas ada dong… diperut kita isinya ngga hanya makanan, tapi juga angin, nah ketika perut kita penuh, anginpun jadi banyak. Sama juga kalo perut kosong. Tapi kualitas kentut ketika perut penuh dan kosong jelas berbeda. Rasakan sendiri aja :)

Duh ngga nyaman banget kalo begini. Aku tak tau penyebabnya apa. Kurang makan serat? Kayaknya makananku penuh dengan serat. Buah juga. Pokat, jeruk, terong belanda sudah kutelan. Jadi? Hmmm, sepertinya aku tau solusinya. Dulu-dulu aku juga sering seperti ini, gerakan peristaltik ususku sedikit berkurang sehungga pengeluaranpun kurang lancar. Nah untuk merangsangnya aku mengaji. Setiap malam aku melafalkan ayat suci setelah shalat magrib. tapi beberapa hari ini aku bolos, dan tadi setelah shalat magrib aku kembali mengaji. Hmm, ketika menulis ini perutku seperti dikocok oleh gerakan usus nih. Hasrat untuk BAB sepertinya akan tercapai…

Ohya, tadi aku mengikuti kelas menulis di oraganisasiku. ada bang IN redaktur koran lokal yang jadi pemateri. seru juga. Setelah itu aku dan adikku ke rumah sepupu, tapi ternyata tak ada orangnya. lalu kemudian kami memutuskan untuk ke sekret sebuah komunitas yang kuikuti juga, nganterin sarung dan sajadah untuk shalat.  lalu pulang, angkat baju dijemuran, mandi, buat jus pokat, shalat magrib, dan menulis di blog :)

Perjalanan Kelima : Kamar Mandi Kesabaran

Diarsipkan di bawah: Perjalanan — waterlily at 10:51 am on Sabtu, Nopember 21, 2009  Tagged

Hari ini kuliah libur, jadi aku bisa internetan seharian nih. Tapi, koneksinya lambat banget, kaya bekicot. Ah, walaupun lelet yang penting aku bisa nulis. Menulis diblog tercinta ini. :)

Jangan heran kalo judul perjalanan kali ini sedikit aneh, sama seperti yang sedang nulis nih :D Itu adalah nama yang kuberikan untuk kamar mandi di kosku. Kamar mandi kesabaran. Bagus kan? Cakep ngga namanya? Pasti cakepan yang nulis dong.. hu hu hu.

Nama itu tiba-tiba meluncur di otakku, saat sedang ngantri di kamar mandi karena ada kuliah 40 menit lagi. Dan tahukah kamu apa yang terjadi? aku harus menghabiskan waktu 30 menit untuk menunggu yang di dalam kamar mandi keluar. yang antri cuma aku sendiri. 30 menit, bayangkan saja? itu artinya  10 menit lagi kuliah dimulai.

Sudah kuduga, yang sedang mandi saat itu adalah penghuni kos yang kamarnya di bawah (kamarku di atas lho). selalu begitu, mandinya kayak mandi tujuh rupa saja. Lama banget. Huh, ingin sekali kudobrak pintu kamar mandi itu, dan melihat jenis bunga apa yang dipakai sampai-sampai mandinya bisa sangat lama. eh, kalau didobrak pasti pemandangan yang mengerikan akan muncul. Oh, lewat…

Sabar , sabar. aku mencoba menenangkan diriku untuk kesekian kali. Lama aku terduduk di depan kamar mandi sambil berharap makhluk yang ngga berperasaan itu keluar. Aku terpaksa menjudgenya demikian, karena sudah beberapa kali aku, dan semua penghuni kos yang lain harus telat kuliah karena mengantri di kamar mandi. Sudah beberapa kali aku menegur kebiasaannya.

“Dek, mandinya jangan lama banget, yang lain pada ngantri!” dan dia mengangguk mengiyakan.

Nah, setelah itu kejadian serupa berulang lagi dan juga kemarin. Duh, ngga mungkinkan kalo ditanya dosen kenapa aku telat, jawabannya karena harus ngantri di kamar mandi.

Kesabaranku hilang, aku pun mengedor pintu kamar mandi itu lalu kabur ke kamar kos temanku yang di bawah :D

Ia tak kunjung keluar juga. sabar. ya, aku mencoa bersabar. bersabar menunggu antrian di kamar mandi kesabaran…

Tak lama, dia yang menguji kesabaranku pun keluar. Langsung saja, aku mandi cepat-cepat. 5 menit selesai. lalu naik ke atas, masuk kamar. pake baju, jilbab, bedak, 4 menit selesai. setelah itu bergegas ke kampus yang letaknya 100 meter dari kosanku. Alhamdulillah dosennya belum masuk :D

Repot memang, dengan penghuni kos yang jumlahnya 9 orang, kamar mandinya cuma satu. Ada sih sumur satu lagi, tapi terbuka, biasanya dipakai untuk cuci pakaian. Mau pindah? ah, aku sudah betah disini. Mau gimana lagi, semoga aja yang suka lama-lama di kamar mandi itu lebih pengertian dengan penghuni kos yang lainnya.

Ohya, lelah banget nih. Semalaman aku menulis untuk ikut lomba blog. Semoga aja menanga ya, amiin. Soalnya kalo menang hadiahnya akan kugunakan untuk membayar utang :(

Halaman Berikutnya »