Dek, lagi sibuk tidak? Ada yang mau abang tanyakan. Tapi kalau kamu lagi sibuk it’s ok. Abang juga tidak mau mengganggu koasmu.
Elsatu tiba-tiba mengejutkanku dengan smsnya. Mau nanya sesuatu? Kalau mau bertanya lantas kenapa harus menungguku tidak sibuk? Pikirku. Saat itu aku memang sedang sibuk karena harus dinas malam di rumah sakit. Pasien yang kutangani sedang gawat, tapi tetap saja konsentrasiku teralih oleh sms Elsatu itu.
Emm… sibuk ngga ya? balasku. Sampai akhirnya aku menegaskan dengan mengiriminya pesan
Iya, lagi sibuk. Lagi jaga di RS. Memangnya mau nanya apa? Kok sampe ada istilah “mengganggu” gitu. Â Ada apa sih? Tanya aja?
Lalu dengan sedikit mukaddimah, Elsatu menanyakan sesuatu yang memang sudah kuduga sebelumnya. Ya, pertanyaan yang memang akan menggangguku. Sampai sekarang setelah lima hari sms itu sampai ke ponselku, aku masih terganggu. Coba saja aku tidak memberikan kesempatan baginya menyakan hal itu, pasti sekarang aku tidak galau seperti ini.
Hehe.. Ya udah, abang nanya aja deh ketimbang kamu penasaran. Pertanyaannya adalah… Tapi dirimu jangan marah ya.. “Bolehkah abang mengenalmu lebih jauh?”
Kalimat yang dibubuhinya dengan tanda kutip itu membuatku sampai sekarang harus berpikir keras. Syukur waktu itu aku menjawab
Berikan diriku waktu untuk menjawabnya
Dan diapun mengiyakan sambil menambahkan bumbu “jangan sampai hal ini mengganggu aktivitasmu”. Bah, jelas mengganggu. Bahkan sangat mengganggu. Saban hari aku terus menerus kepikiran dengan pertanyaannya itu. Memikirkan jawaban apa yang harus aku jawab.
Jujur, sebenarnya sejak dulu aku sudah mulai menyukai lelaki itu. Padahal saat itu, temannya (Eldua) sedang melakukan pendekatan denganku. Hanya saja, rasa itu aku pendam apalagi waktu si Eldua mengatakan bahwa ia sering trauma dengan teman wanitanya.
“Kenapa ya, setiap abang mengenalkan teman cewek abang ke teman (cowok) pasti nantinya si cewek itu jadian sama teman abang, ” begitu jelasnya.
Serasa seperti pagar makan tanaman memang. Tapi seiring berjalannya waktu, rasa sukaku mulai berkurang. Ya, aku adalah orang yang mudah menyukai dan menghilangkan rasa itu ketika aku tidak menginginkannya. Layaknya tanaman, jika dipupuk dan disiram dengan rajin ia akan tumbuh subur. Tapi jika dibiarkan saja, tanaman itu akan mati dengan sendirinya. Begitulah rasa. Aku meyakininya.
Aku rasa, Elsatu mulai berani menanyakan hal itu kepadaku setelah ia tahu kalau aku sudah menolak Eldua. Ya, apalagi menurut cerita Eldua, ia sering curhat tentangku kepada Elsatu. Pasti lelaki itu sudah menceritakan perihal penolakanku padanya.
Jujur, sebenarnya walaupun sudah dibiarkan rasa itu masih ada di hatiku. Aku masih menyukai Elsatu, apalagi beberapa ia adalah tipikal cowok yang masuk ke dalam beberapa kriteriaku.
1. Ilmu agamanya bagus. Ia sering mengisi kajian dan menjadi khatib ketika jumat. Elsatu juga bersekolah di pesantren yang sama denganku ketika SMP dulu. Ketika aku mengajaknya diskusi, pendapat yang diberikannya membuatku kagum. Aku suka cara dia berpikir. Jika bersamanya kelak, aku yakin akan dapat membangun sebuah rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah. Ia pasti bisa membimbingku ke arah yang lebih baik.
2. Pendidikannya juga memadai. Dia seorang sarjana teknik dan sekarang menjadi manajer di sebuah kantor pengumpulan zakat. Saat ini menurut pengakuannya ia sedang melamar kerja di perusahaan BUMN dan di kantor pemerintah.
3. Dewasa. Ya, dia cukup dewasa. Aku menyukai orang yang berpikiran dewasa. Setidaknya dengan begitu, aku akan lebih menghormati dia.
4. Menghargai wanita. Dari cara-cara dia berbicara denganku secara langsung, ketika kami mengobrol di dunia maya ataupun sms, aku merasa dia saat menjaga perasaanku. Tidak pernah memaksa kehendaknya atau apapun itu.
Apa yang ada padanya sekarang meleburkan hal-hal lain yang ada padanya dan tidak masuk ke dalam kriteriaku
1. Anak pertama. Aku sangat menghindari lelaki yang merupakan anak sulung dalam keluarganya karena aku juga anak pertama. Sebagai anak pertama, dia pasti menjadi tulang punggung keluarganya sama seperti aku. Anak pertama cenderung egois. Dan berbagai hal lain yang cenderung ada pada anak pertama. Nah, jika dua hal yang tidak baik ini dipertemukan, bukankah tidak baik juga?
2. Adik-adiknya banyak. Waktu aku menanyakan berapa orang adik-adiknya. Elsatu mengatakan kalau mereka 9 bersaudara. Itu artinya ada delapan orang dibawahnya. Bayangkan saja, dia saja baru 28 tahun pasti adik-adiknya masih kecil-kecil juga. Mereka pasti akan menjadi tanggungan si Elsatu.
3. Dia belum memiliki pekerjaan tetap.
4. Dia adalah tipikal seorang haji atau ustad yang jika nanti aku menikah dengannya, aku mungkin hanya akan di rumah saja. Aktivitas yang kujalani selama ini mungkin akan dilarangnya. Aku tidak bisa sebebas sekarang
5. Tidak tinggi. Ia hanya beda beberapa senti dariku.
Kelima hal itu lebur dengan kelebihan yang dimilikinya. Namun, semua itu tidak membuatku langsung menjawab ia padanya. Apalagi ketika aku mencari tahu tentangnya pada Eldua. Kesannya jahat memang. Masa aku menanyakan itu pada orang yang pernah menyukaiku. Tapi mau nanya pada siapa lagi? Hanya Eldua yang kukenal dan sahabatnya Elsatu.
Secara objektif, Eldua memaparkan panjang lebar tentang Elsatu. Orangnya baik, agamanya bagus. Tapi ada hal lain yang membuatku semakin ragu untuk menjawab “Ya”.
Bertanya pada Eldua memang tidak akan memberikan hasil seperti yang sesuai dengan keinginanku. Perasaannya pasti akan lebih mendominasi jawabannya. Apalagi ketika ia tahu kalau teman yang selama ini menjadi tempat curhatnya ternyata juga menyukaiku. Tapi ketika ia mengatakan kalau Elsatu ternyata sudah mencari tahu tentangku dan keluargaku. Bahkan sampai ke silsilah keluargaku segala.
“Keluarga dia (Elsatu) juga kenal dengan keluarga kamu. Dan sepertinya mereka kurang sreg dengan keluargamu, Dek.”
Aku tak tahu apakah pernyataan Eldua itu benar atau dia hanya mendengar kabar tak jelas saja. Tapi, kalimat itu langsung membuatku semakin ragu untuk menjawab “Ya” pada Elsatu. Bagiku, keluarga adalah segala-galanya. Di dunia ini selain Allah, aku hanya memiliki mama dan adikku. Bagiku mereka adalah segala-galanya. Dan jika ada orang yang tidak menyukai mereka, maka berhenti menyukaiku juga.
Mungkin aku harus istikharah dulu sebelum aku memberinya jawaban.